Marhaban Ahlan Wa Sahlan….

Romadhon Selamat Datang I’m Coming I Lop U Pul.

Diluar sana, semuanya mengatakan Romadhon kedatangannya penuh dinanti, Kehadirannya penuh berkah, semuanya mengatakan “Bulan romadhon, Bulan Penuh Berkah”.

Subhanallah…..

Ya Allah….

Mengapa itu tidak terjadi pada ku…. apakah aku sangat dosanya….???

Aku mengatakan bahwa “Bulan Romadhon” bulan penuh dosa bagiku.

karena selama itu aku hanya bisa mengumpat pada Tuhanku.

Bayangkan…. Ketikan aku ingin beramal, dengan harta bendaku, aku tidak ada yang damalhan, bahkan keadaanku lebih miskin dari yang seharusnya dikasihani.

Ketika aku ingin beramal dengan kebaikan, aku hanya mampu menggerutu, harus dengan perbuatan baik semacam apa yang akan aku kasihkan, karena tidak ada kebaikan sama sekali untukku dihadapan-Nya, karena aku sangat jauh dari kebaikan.

Dengan sekedar baca al-Quran,,,,?, Masih diterimakah bacaanku… kalau setiap kali aku melupakannya.

Tuhan dengan apa aku harus mendekat kepada-Mu….???

Terimalah, hanya kesabaranku untuk menunggu hidayah-Mu. melapangkan dadaku, melembutkan hatiku, melenturkan ucapanku, melambaikan langkahku yang ku jadikan jembatan untuk mendekatkan pada-Mu.

Ya Allah… Aku merindukan-Mu.

Berilah kesembatan bibir ini untuk mengucapkan “Ya Allah,,, Aku Mencintai-Mu”

Salam sejahtera, Salam selamat tuk semuanya.

Assalamu’alaikum… Semoga Tuhan Melindungi kita.

Untuk temanku semua “maaf” karena aku melangkah dengan berpijak pada indahnya lukisan tangan antum semua.

Semoga kehadiranku tidak membuat semua takut, dan tidak menjadikanku sebagai arwah gentayangan yang menakutkan. Jadikan diriku sebagai daftar sahabat yang selalu merindukan.

40 hari bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilalui, penuh kesabaran dan rasa takut untuk memulai. Aku minta maaf kalau kesabaranku akhirnya terhempas juga.

Kini aku menyapa, sebagai tanda salam jumpa.

Do’akan aku selalu setia, untuk berbagi meraih harapan dengan mimpi, walau miungkin ada kemarahan yang tertahan

Salam pamit dariku

Kawan…

Tak akan ku biarkan air mataku menetes,,, walau berat.

Tak akan ku biarkan jiwaku resah,,, maskipun harus berpisah.

Tak akan ku kecewa,,, walau sejatinya luka.

Aku akan berusaha tersenyum,,, maskipun tertahan.

Aku akan terus menatap,,, maskipun kosong.

Tuhan izinkan aku berpisah pada semua, berucap pamit demi kebahagiaan. Aku rela maskipun Kau melemparkanku ke jurang gelapmu kembali, asal jangan Kau pisahkan aku dengannya yang telah terikat teman didagunya. Demi kata-kataku yang tertunda, izinkan aku berdo’a. Jadikan dia sebagai kekasih-Mu, disisih-Mu yang kau cinta, dengan kata-kata dan sumpah setianya, dengan lantunan dan kasih sayangnya, dengan senyum dan air mata.

Untuk Kawanku yang telah mau singgah.  Slifaer (Setan99) maaf,,, ane blm bisa meng-add pic-mu di MyBlogLog, ane hanya bisa katakan trimakasih telah mampir, walau akhirnya dengan penuh sesak harus berpisah. reallylife “semoga jalinan persaudaraan dan silaturahmi ini tidak terputus” maaf kawan, tapi demi persaudaraan aku ucapkan Selamat Tinggal, untukmu, untuk semua yang berkenan singgah di obrolanku. filarbiru, trimakasih, atas semuanya, terimakasih juga telah memasukkan blog-ku, sebagai Blogroll-mu, maskipun kau tidak suka akan kata-kata cintaku, tapi itu bukan mauku, tapi ucap hatiku yang berlalu, mengiringi suasana kepingan hati yang tersisa. Untuk insanmuhamadi aku teringat pada kata-katamu “wah..wah… saya kira ni blognya mbak rindu, ternyata pengagumnya, sampai2 semuanya sama persis. atau jangan2 ini akal-akalannya mbak rindu?? ah, saya terlalu berprasangka…” insan inilah gambaran rindu yang sama, ingin aku menyapa Tuhanku dalam media yang sama, tapi apalah daya, Tuhan pula yang tidak menginjinkanku untuk serupa. Maka sekarang aku minta pamit, demi sebuah talian saudara, agar jangan sampai terputus. Mungkin dengan begini aku bisa melihatnya tersenyum, dengan senyuman tulus dan bahagia, salam selalu dariku bila kau menyapa.

Untukmu, deeedeee trimakasih mau mampir, dan akhirnya harus berakhir, do’amu semoga dikabulkan, semoga dirinya segera kembali dari tepiannya, dan menyapa kita dengan penuh cinta, aku pergi untuk sebuah janji. do’akan aku supaya Tuhan mempercayakan kekuatan memenuhi janji kepadaku, aku ikhlas walau dengan derai yang tertahan. Hai sunarnosahlan, kau benar, kadang menangis justru sangat dibutuhkan, aku sekarang merasakannya dan sangat ingin melinangkan airmata, tapi karena janjiku, aku usahakan untuk tidak menetes, demi sebuah rindu. trimakasih engkau yang telah mau menambahi komen-ku. indra, Semoga kau selalu disayang oleh-Nya, inilah do’a singkat dariku, do’a perpisahan dan juga do’a harapan semoga ada jalan untuk Tuhan mempertemukan, biarlah kutahan rindu, untuk rindu yang lain, trimakasih telah mau berbagi. Trimakasih nurrahmanarif, maskaipun kau mengataiku MELO, tapi itu lah salam untukku, itulah yang mampu membuat terlihat garis senyumku, aku lebih suka dikatai orang asal jangan mengatai teman-sahabat-saudaraku, komenmu yang singkat adalah semangat bagiku yang sangat, tapi karena suatu sebab akhirnya aku harus merelakan teman-teman terkasihku, maafkan aku shobat.

Haluuuu, omiyan , andai nasip kita bisa ditukar,,, akan ku tukar dengan nasip yang lebih baik, pun seandainya aku baik, akan ku tukar dengan nasip orang yang lebih membutuhkan, trimakasih, karena kehadiranku, kau telah teringat temanmu, “Rindu” ya, atau Ade, atau Robi’ahku, ah aku hanya asal menebak, aku juga merindukannya, semoga kita dipertemukan walau dalam media yang berbeda, itulah yang menjadi harapan satu-satunya. cantigi, izinkan aku berdialog dengan matahari? bolehkah?. Kini aku ingin mengadu pada matahari, pada rembulan, pada bintang pada semua yang kiranya mau jadi pengaduan. trimakasih udah mau berkunjung. abifasya trimakasih shobat atas bujuknya, atas pintamu untuk tidak menangis, aku tidak akan menangis, aku hanya berpisah demi jiwa yang mengharapkan cinta, izinkan aku bertemu lain waktu, mambujuk kembali untuk tidak menangis, skali lagi trimakasih. Insya Allah aku akan sering mengunjungimu. walau kita tak saling ketemu.

syelviapoe, trimakasih atas engkau mau mengenalku, perkenalan yang akhirnya harus ada perpisahan. Ikutkan aku menemui Rob-mu, dengan kapas rindumu… thepenks, kau benar akhi,, ada senang ada sedih..  semuanya saling beriringan dan saling melengkapi, alangkah indahnya kalau ada yang mau diajak berbagi, aku merindukan disetiap kata yang keluar dari teman-teman setia, tapi kini kerinduan itu harus aku kubur bersama diri yang terluka. Eko Widiyanto, kau menggunggapkan sesuatu yang indah-indah, tiada kata-kata yang indah kecuali sanjungan, tapi sanjungan yang indah hanyalah apabila disandarkan pada sang pemilik keindahan, trimakasih Eko udah mau berkunjung, walau hanya sekejap dan akhirnya kita berpisah. Muhamad Azam, walau sedih untuk kukatakan, tapi aku harus kuat untuk melakukannya. ibarat titah yang harus aku emban. Akhi,, aku tidak akan melupakan kata-katamu, sebuah perkenalan, ikatan persaudaraan, kedamaian dan kehidupan, semua itu terasa indah, dulu yang pernah kau tulis, kini biarlah tinggal kenangan. Aku ucapkan salam untukmu, salam berpisah untuk kehidupan yang lain. Untuk yang terakhir Ojie trimakasih atas engkau telah memberi semangat, sebagai kata pamit aku ingin menyunting kata-katamu “Sebodoh-bodah manusia adalah yang tidak mampu memperoleh kawan-kawan untuk dirinya, namun yang lebih bodoh lagi ialah yang menyebabkan perginya mereka yang telah diperolahnya” semoga kata-katamu, memberi semangat baru dihatiku.

Selamat tinggal Kawan

Usah kau menangis kawan, Aku tidak meninggalkan dunia, karena aku belum siap menemuinya, belum siap untuk merasakan sakitnya pecutan sang Malaikat, sedangkan aku masih berlumuran noda, tetaplah aku didunia untuk menahan sakitnya pecutan jiwa dan rasa yang merindu. Maafkan aku kawan, hanya maaflah, yang mampu mencuci melepaskan noda. Izinkan aku menutup mata, karena dengan demikian aku bisa melihat dosa-dosa dan meminta ampun kepada-Nya.

Kini aku hanya bisa berucap pada suara seruling bambu yang menghilang, mengadukan nasip dan menyeka airmata. Tuhan beri waktu sejenak untukku, untuk menerima perpindahan nasip yang Engkau janjikan, untuk melihat gadis cantik diatas Bus kembali, untuk menunaikan suatu janji, yang sedang Kau ujikan.

Astagfirullah,,,  ada yang terlupa, walau aku tak ubahnya debu, aku ingin perpesan satu untukmu “usah kau rendahkan dirimu, walau dihadapan Tuhan karena pasti ada sisi yang mesti dan harusnya disyukuri daripada mencaci mengingkari nasip yang telah diberi.

Sekali lagi aku ucapkan terimakasih untukmu kawan, karena dengan bersyukur kita bisa merasakan nikmat yang lain, untuk teman-teman, sahabat, saudara yang belum sempat menyapa, maafkan aku, karena aku yang belum sempat untuk mengunjungimu. Izinkan aku menyulam rinduku di belahan karya-karya indahmu.

Untukmu perempuan dikebun hikmah, Robi’ahku, juga putri ningrat yang pernah aku kenal, mungkin karenaku engkau menangis, dan kepergianku semoga menjadi salah satu penenang jiwamu, sekali lagi  maafkan aku, biarlah aku hanya mendengarkan lantunan ayat-ayat al-Quran yang kau baca atau ikut mendengarkan asmaul husna disetiap deru laju mobilmu, ataupun hanya sekedar mendengarkan suara klakson mobilmu, itu sudah cukup, apalagi mau menambahi senyum, sebagai amal disetiap pagimu untukku. Dan trimakasih, engkau telah mengenalkan Tuhanku, maskipun sekarang harus terancam untuk kembali.

Aku akan selalu mengingat kata-kata mu, dan izinkanlah aku untuk mengucapkannya “Jika kesedihan datang dan duka lara menggunung, ucapkanlah…  “La illaha illa ALLAH” Tiada Tuhan selain Allah, Dialah yang Maha Mengambil dan yang akan mengganti, entah kapan, entah sempat merasakan. Dia jugalah yang Maha Memisahkan disetiap pertemuan, juga Maha mempertemukan di setiap perpisahan.

Inilah salam perpisahan dariku, dengan satu harapan – supaya kita dipertemukan, dan janganlah kita saling memutuskan hubungan kekeluargaan, persahabatan, sekanca dan sekawan.

Sudah, Trimakasih,

Salam dariku untuk semua “Rouf tracal

Dinginnya malam mengantarkanku terjaga.

Ingiiiin aku mengantarkan pagi nanti dengan senyum dan sambut mesra. Di pagi dingin ini aku ingin mengatakan bahwa DIA bukan AKU, sebagai kata awal permintaan maafku.

Untukmu Shobat,,, izinkan aku memadu kasih lewat media yang sama. Jangan sakiti dia, jangan tuduh dia, jangan katai dia, jangan anggap dia lari dari penepiannya. Aku yang salah karena diriku, aku yang menggaguminya, merindukannya sampai aku gila.

Shobat,,, Aku ingin menguasai dunia, tapi dia ingin menguasai hatinya, dia sebagai Robi’ah dimataku dan al-Adawiyah dihatiku. Tapi aku, hanya sebagai onggokan yang mengganggu.

Shobat,,, Dia mencari cinta-Nya, tapi aku mencuri cinta Dinda. Dia adalah dia, Shobatku. Dia juga tidak menjelma menjadi aku, dia tidaklah aku.

Shobat,,, Izinkan dia menepi, untuk selanjutnya menyambut kalian dengan hati damai, dengan hati yang selembut salju, hati yang kita rindukan.

Maskipun hati ini pedih karena penepiannya, tapi aku ikhlas, ridho, untuk dia menjadi Robi’ah yang agung. Shobat,,, dari hati, sekali lagi aku katakan, “dia adalah dia, dia bukan dan tidak menjelma, apalagi menjadi diriku yang gila”, kita sama-sama ingin belaian-Nya, tapi kayaknya aku sudah tidak pantas lagi untuk dibelai, karena aku melalaikan-Nya, waktu Dia [Tuhan] ingin membelaiku. Sekarang aku ingin kembali, aku merindukan-Nya, tapi aku tidak tau jalannya. Aku takut Dia [Tuhan] marah, maka aku beranikan diri untuk menautkan hati ini pada Dinda, untuk sekedar menyapa-Nya dalam media yang sama.

Maafkan aku, Robi’ahku.

Maafkan aku Shobatku. Ini kesekian kalinya aku minta, jangan sakiti dia, karena akulah yang seharusnya disakiti, jangan katai dia, jangan jadikan aku yang dungu sebagai jelmaan Robi’ah yang aku rindu. Izinkan dia menepi, untuk menyapa kita dengan penuh damai.

Inilah aku, diriku, bersama jiwaku yang  kosong, yang butuh tautan untuk mencari cinta-Nya.

Shobat ,,, Sampaikan salamku padanya, jika antum semua meluangkan sedikit mata untuk melirik deretan coret berharap makna.

Salam dariku untuk semua, Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya, dan suatu saat kita dipertemukan dalam media yang berbeda.

Seribu hati telah merasa kehilangan

Kehilangan senyum dan canda kata, bercanda penuh hikmah dan air mata, penuh cinta dan rindu mesra, Tuhanlah yang mampu menyatukan segalanya, menyatukan hati yang merindukan belaian kata terajut cinta.

Kini juga banyak mata yang merelakan airnya untuk menetes, mengiringi penepiannya, menyambut kebahagiaan yang dicari. Tiada yang tau kapan akhirnya bertemu, hanyalah angan sebagai penyambung harapan, serta jiwa tulus yang mengharapkan ujung penantian. Jangan terlalu lama kau tinggalkan, karena masih banyak jiwa-jiwa tulus yang mengharapkan belaian, karena masih banyak jiwa-jiwa gersang yang menginginkan siraman, maskipun hanyalah Tuhan yang mampu untuk mengembalikan jiwa gersang.

Usah kau menangis Sayang, karena masih banyak do’a yang menginginkanmu tersenyum, mereka semua ingin sapamu, menginginkan atas candamu, menginginkan atas rindumu. Memintakan pada-Nya untukmu tabah, dan sabar atas segara musibah.

Aku yakin kau hanya menepi, bersandar menghilangkan lelah, yang nantinya akan menyambut kami dengan penuh cerah.

“aku akan selalu menunggumu, menunggu sampai dipenghujung asaku…” Aku tidak tau kapan asa itu akan kunjung datang. Bisa besok, nanti bahkan kali ini.

Ucapanmu sangat menyejukkan, kau berucap “terima kasih sudah mau menunggu saya, tapi saya tidak tahu dimana ujung tepi yang saya cari jadi mungkin akan lama pencarian ini terima kasih dengan segala kerendahan hati saya”. aku merenung saat kata itu terucap.

“… tapi saya tidak tahu dimana ujung tepi yang saya cari…”

Semoga kamu  lekas menemukannya Sayang, menemukan tepi yang penuh dengan Ridho Illahi, bersama senyum dan kasih sayang-Nya. Aku tidak banyak berkata. Aku hanya berdo’a, semoga engkau tidak terlena dan asyik dalam penepian karena-Nya, karena masih banyak yang menginginkan tawa, canda, tangismu untuk menghibur mereka.